RagamSulut.co.id – Kesehatan mental menjadi salah satu isu penting di era digital saat ini, di tengah derasnya arus informasi media sosial yang turut memengaruhi kondisi psikologis masyarakat.
Menjawab tantangan tersebut, Komunitas Cegah Bunuh Diri (KCBD) terus menunjukkan konsistensinya dengan menghadirkan layanan konseling gratis bagi masyarakat Kota Manado dan sekitarnya selama lima tahun terakhir.
Komunitas yang lahir di tengah pandemi Covid-19 itu kini berkembang menjadi salah satu pilar penting dalam upaya preventif dan edukasi kesehatan jiwa di Sulawesi Utara.
Founder KCBD, Hanna Monarek mengatakan layanan konseling gratis sengaja dihadirkan untuk mendekatkan akses bantuan psikologis kepada masyarakat serta menyediakan ruang aman bagi mereka yang sedang berjuang menghadapi persoalan mental.
“Tujuan kami adalah bisa lebih menjangkau dan lebih dekat lagi dengan masyarakat, khususnya di Kota Manado. Kami ingin menjadi ruang aman sehingga mereka merasa ‘I’m not alone’,” ujar Hanna di Manado, Sabtu (23/5/2026).
Ia menjelaskan, KCBD resmi dibentuk pada 21 Mei 2021 bersama rekannya Cynthia dan Angelia. Komunitas tersebut lahir setelah meningkatnya kasus menyakiti diri sendiri (self-harm) dan ide bunuh diri yang ditemui dalam ruang konseling individu selama pandemi Covid-19.
Memasuki usia kelima, jangkauan KCBD kini telah meluas hingga tingkat nasional.
“Ternyata yang bergabung bukan hanya dari Manado atau Sulut saja, tetapi sudah menjangkau Indonesia dari Sumatra sampai Papua,” tambah Hanna.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar lebih peka terhadap kondisi mental masing-masing. Menurutnya, memendam tekanan dan memaksakan diri untuk selalu terlihat kuat dapat menjadi bom waktu bagi kesehatan jiwa.
“Mencari bantuan ke psikolog klinis, konselor, atau komunitas seperti KCBD bukanlah sebuah kelemahan. Itu adalah bentuk keberanian luar biasa untuk membantu diri kamu menjadi lebih baik,” tegasnya.
Dalam menjalankan misinya, KCBD bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara melalui Dinas Kesehatan Daerah. Kolaborasi tersebut diwujudkan lewat berbagai program lapangan, termasuk pengoperasian Mobil Pink, layanan konsultasi keliling yang memberikan akses nyaman bagi masyarakat untuk berkonsultasi.
Berkat kontribusi tersebut, KCBD kini dipercaya menjadi komunitas peduli kesehatan mental rujukan dari Kementerian Kesehatan untuk wilayah Manado dan Sulawesi Utara.
Sementara itu, perwakilan Dinas Kesehatan Provinsi Sulut, dr. Felicia Kalesaran, memberikan apresiasi terhadap konsistensi KCBD selama lima tahun terakhir.
Menurutnya, keberadaan komunitas seperti KCBD membantu pemerintah mengatasi keterbatasan sumber daya manusia dalam menjangkau masyarakat yang membutuhkan pertolongan psikologis.
“Kehadiran KCBD merupakan kebanggaan bagi kami. Komunitas ini membantu secara signifikan dalam menurunkan stigma negatif terkait kesehatan mental di Sulawesi Utara, khususnya Manado,” katanya.
dr. Felicia menjelaskan, sejak pandemi Covid-19 kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan mental meningkat drastis. Pemerintah pun mulai menggeser paradigma penanganan kesehatan jiwa dari yang sebelumnya berpusat di rumah sakit jiwa menjadi lebih menitikberatkan aspek pencegahan berbasis komunitas.
Sebagai bagian dari strategi tersebut, Kota Manado sejak 2023 dipilih menjadi wilayah pelaksanaan program perbaikan sistem kesehatan jiwa dari Kementerian Kesehatan.
“Kalau dulu berpikir masalah kesehatan jiwa harus langsung ke RS Ratumbuysang, sekarang idealnya diperkuat lewat pencegahan bersama komunitas seperti KCBD,” jelasnya.
Dalam pelaksanaannya, Dinas Kesehatan Sulut juga menggandeng psikiater dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) Sulut serta Ikatan Psikolog Klinis (IPK) Sulut yang dipimpin oleh Hanna Monarek.
dr. Felicia berharap KCBD terus berkembang menjadi komunitas inklusif yang dapat diakses semua kalangan tanpa batasan latar belakang.
“Terkadang ada anggapan jika ada masalah mental berarti kurang beribadah. Padahal yang dibutuhkan masyarakat adalah komunitas inklusif yang bisa diakses siapa saja tanpa batasan agama,” pungkasnya.(Ikel)











