Opini

Guru Panggilan Jiwa, Guru Hebat

×

Guru Panggilan Jiwa, Guru Hebat

Sebarkan artikel ini

Oleh : Arianto Batara

Refleksi Hari Guru Nasional 25 November 2025

Guru adalah profesi yang berlandaskan nilai-nilai luhur. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 menegaskan bahwa profesi guru dijalankan berdasarkan sejumlah prinsip utama, salah satunya panggilan jiwa. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, panggilan jiwa dimaknai sebagai panggilan hidup—kecenderungan hati untuk menjalankan suatu pekerjaan karena dorongan batin yang mendalam, bukan sekadar keinginan sesaat.

Panggilan hidup dapat dibayangkan seperti magnet. Ia bekerja pelan, namun konsisten, menarik perhatian dan perasaan seseorang, menumbuhkan kegelisahan bila tidak dijalani, dan lama-kelamaan menjadi kekuatan yang mengarahkan seluruh hidup. Panggilan hidup berbeda dari keinginan; keinginan bersifat sementara, sedangkan panggilan hidup menetap dan membentuk arah perjalanan seseorang.

Integritas: Buah dari Panggilan Jiwa

Guru yang menyadari profesinya  sebagai panggilan jiwa akan menghadirkan diri dengan integritas. Kata integritas berakar dari bahasa Latin integer, yang berarti utuh—kesatuan antara kata dan tindakan. Pandangan ini sejalan dengan pemikiran Stephen R. Covey, yang menegaskan bahwa integritas merupakan fondasi kepercayaan dan kepemimpinan moral.

Dalam konteks pendidikan, integritas guru terwujud dalam proses pembelajaran. Guru yang hidup dalam panggilan jiwanya tidak puas dengan kemampuan yang sudah dimiliki. Ia terus belajar, termasuk mereka yang sudah senior sekalipun. Namun, banyak perenungan menunjukkan bahwa pembelajaran yang baik tidak bertumpu semata-mata pada teknik mengajar.

Identitas dan integritas guru adalah sumber utama kualitas pengajaran. Sebagaimana dikemukakan Parker J. Palmer dalam Keberanian Mengajar, “Kita mengajar dari siapa diri kita.” Jernihnya sumber air menentukan jernihnya aliran yang keluar darinya.

Spiritualitas Profesi Guru

Pernyataan bahwa identitas dan integritas adalah inti pengajaran yang baik sekaligus menyentuh ranah spiritualitas profesi. Guru yang memahami profesinya sebagai panggilan jiwa meyakini bahwa tugas mendidik—mengajar, membimbing, mengarahkan, menilai—adalah mandat dari Sang Pencipta. Keyakinan ini memberi daya tahan moral dan keteguhan hati ketika menghadapi tantangan.

Semangat adalah Api dalam Diri

Semangat adalah api dalam diri seorang guru. Ketika guru menghayati profesinya sebagai panggilan jiwa, semangat itu menyala dan meningkatkan mutu pembelajaran. Namun, kenyataannya, semangat dapat menurun atau padam seiring perjalanan waktu.

Pemulihan semangat seringkali dimulai dari cara memandang peserta didik. Setiap anak membawa potensi membangun peradaban atau merusaknya. Kesadaran akan tanggung jawab itu kerap menjadi energi pembaruan. Semangat menjadi bagian penting dalam pembelajaran—bukan sekadar tambahan, tetapi unsur esensial.

Peran Mentor: Besi Menajamkan Besi

Guru yang berintegritas bukanlah guru yang merasa cukup. Ia tetap membutuhkan rekan dan mentor untuk bertumbuh. Pandangan ini sejalan dengan konsep professional learning community yang banyak dikembangkan dalam literatur pendidikan modern. Mentor tidak hanya menjadi teladan dalam teknik mengajar, tetapi juga menjadi penyemangat moral dan profesional.

Seperti tulisan bijak Nabi Sulaiman, “Besi menajamkan besi, manusia menajamkan sesamanya.” Kehadiran mentor membuat guru tetap rendah hati dan terbuka terhadap pertumbuhan.

Panggilan Jiwa: Suara Batin yang Tidak Padam

Panggilan sebagai guru sering dirasakan seolah datang dari luar diri—dorongan masyarakat atau kebutuhan dunia pendidikan. Tetapi ketika direnungkan lebih dalam, panggilan itu sebenarnya berasal dari kedalaman batin, dari keyakinan bahwa mendidik adalah jalan hidup.

Guru yang memahami profesinya sebagai panggilan jiwa akan terus menghayati maknanya, bahkan setelah purna bakti. Usai masa dinas, ia tidak berhenti menjadi guru; ia menjelma menjadi mentor bagi generasi penerus.

Integritas guru menjadi sangat penting. Peserta didik meniru jauh lebih cepat daripada mendengar. Tanpa integritas, guru justru menyiapkan generasi yang rapuh. Guru yang mengabaikan integritas sedang mengkhianati panggilan jiwanya.

Di tengah perubahan zaman yang cepat, satu hal tetap: pendidikan yang baik lahir dari guru yang hidup dalam panggilan jiwanya.

Semoga setiap guru terus merawat identitas, menjaga integritas, dan mengalirkan kebaikan bagi generasi masa depan. Guru Hebat, Indonesia Kuat Selamat Hari Guru Nasional 25 November 2025.

Penulis adalah Kepala Balai Guru dan Tenaga Kependidikan Provinsi Sulawesi Utara saat ini.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *