RagamSulut.co.id — Ada sesuatu yang membuat Timnas Spanyol terus menjadi kekuatan dominan di sepak bola dunia. Setelah menambahkan dua bintang Piala Dunia FIFA di atas lambang mereka, La Roja semakin menegaskan status sebagai salah satu tim nasional paling menonjol di abad ke-21, Selasa (21/7/2026).
Namun, di balik dua gelar Piala Dunia yang diraih pada 2010 dan 2026, ada sebuah rahasia yang mungkin lebih penting daripada sekadar nama besar pemain atau pelatih.
Apa sebenarnya yang membuat sepak bola Spanyol begitu sulit dihentikan?
Dilansir dari FIFA.com, generasi Spanyol 2010 dan 2026 memang memiliki perbedaan. Sepak bola telah mengalami evolusi yang sangat cepat dalam lebih dari satu dekade terakhir.
Namun, ada satu benang merah yang tidak berubah: pemahaman yang sama tentang bagaimana sepak bola harus dimainkan.
Model sepak bola Spanyol ternyata tidak hanya berhasil di sektor putra. Timnas wanita Spanyol juga berhasil meraih gelar Piala Dunia pada 2023. Kesuksesan tersebut menunjukkan bahwa sistem pembinaan sepak bola Spanyol bekerja secara menyeluruh dan tidak bergantung pada satu generasi saja.
Bintang sepak bola wanita Spanyol, Alexia Putellas, dalam wawancara dengan FIFA, melihat adanya banyak kesamaan antara tim putra dan putri. Keduanya juga berada dalam satu ekosistem pembinaan yang terintegrasi, mulai dari kelompok usia muda hingga level senior.
Menurut David Gutierrez, Direktur Sekolah Pelatih Nasional di Federasi Sepak Bola Spanyol (RFEF), akar kesuksesan sepak bola Spanyol modern dapat ditelusuri hingga satu sosok dan satu periode penting, yakni Luis Aragones pada 2008.
Pandangan serupa disampaikan Jose Francisco Molina, yang pernah menjabat sebagai Direktur Olahraga RFEF untuk sepak bola putra pada 2018 hingga akhir 2022.
Molina menilai Aragones merupakan sosok yang mampu memahami karakter pemain yang dihasilkan klub-klub Spanyol. Para pemain tersebut kemudian dikumpulkan di tim nasional dan disatukan dalam sebuah gaya permainan yang akhirnya terbukti sangat sukses.
“Ialah sosok yang menyadari jenis pemain seperti apa yang dihasilkan oleh klub-klub Spanyol. Klub menggembleng pemain dan tim nasional memanggil mereka, lalu ia memutuskan untuk menyatukan deretan talenta tersebut,” tutur Molina kepada FIFA.
Setelah model tersebut berhasil, gaya permainan itu kemudian dipertahankan dan terus dikembangkan.
Gutierrez menambahkan, Spanyol mungkin tidak selalu memiliki pemain yang paling cepat atau paling kuat secara fisik. Namun, ada satu keunggulan yang menjadi identitas utama mereka, yaitu kemampuan memahami permainan secara kolektif.
“Ia membuat kami semua menyadari bahwa secara genetis, kita mungkin bukanlah yang tercepat maupun yang terkuat, tetapi ada satu area di mana kita sangat unggul, yaitu memahami cara bermain secara kolektif sebagai satu kesatuan,” kata Gutierrez.
Keunggulan tersebut terlihat jelas ketika Spanyol bermain. Setiap pemain seolah memiliki kemampuan untuk membaca situasi di sekitarnya dan mengambil keputusan berdasarkan apa yang terjadi di lapangan.
Perubahan tersebut mulai terlihat kuat pada era Luis Aragones yang memimpin Spanyol dari 2004 hingga 2008. Evolusi La Roja juga tidak terlepas dari peran akademi sepak bola, termasuk akademi Barcelona yang menjadi salah satu tulang punggung skuad juara dunia 2010.
Namun, generasi juara dunia 2026 menunjukkan bahwa sistem tersebut telah berkembang jauh lebih luas.
Kali ini, pemain seperti Rodri dan Fabian Ruiz menjadi bagian penting dari lini tengah Spanyol, meski keduanya tidak pernah bermain untuk Barcelona.
Molina menegaskan bahwa keberhasilan tersebut tidak hanya lahir dari tim nasional, tetapi merupakan hasil kerja panjang klub-klub dan akademi sepak bola di seluruh negeri.
“Semuanya kembali kepada para pemain dan pelatih, tetapi tentu saja hal itu bermula dari klub-klub. Ada begitu banyak klub dan akademi yang melakukan pekerjaan fantastis dalam membina para pemain muda,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Olahraga RFEF saat ini, Aitor Karanka, menilai pendidikan pelatih menjadi salah satu kunci terbesar kesuksesan Spanyol.
Para pelatih Spanyol, menurut Karanka, telah menanamkan pemahaman permainan kepada pemain sejak usia muda. Fokusnya bukan hanya mengembangkan kemampuan individu, tetapi juga membangun pemahaman tentang bagaimana sebuah tim harus bermain secara kolektif.
Metodologi tersebut berpusat pada penguasaan bola dan pembentukan fondasi teknik. Tujuannya agar pemain mampu memahami dan membaca permainan sejak dini.
Inilah yang kemudian menjadi salah satu keunggulan La Roja
Saat menyaksikan Spanyol bermain, pemain mereka terlihat mampu memahami ruang, membaca pergerakan rekan setim, serta mengambil keputusan dengan cepat.
Konsep tersebut juga terlihat dalam proses terciptanya gol Pedro Porro ke gawang Prancis pada semifinal Piala Dunia 2026. Gol tersebut lahir melalui rangkaian operan panjang yang dipadukan dengan pergerakan presisi para pemain Spanyol.
Menurut Gutierrez, pola permainan seperti itu sulit tercipta jika pemain dibatasi oleh sistem yang terlalu kaku.
“Ini adalah tentang memahami setiap detail permainan sehingga kami bisa banyak berlari, tetapi yang terpenting adalah melakukan pergerakan yang cerdas dan memanfaatkan bola secara efektif,” ujarnya.
Model tersebut tidak dibangun dalam waktu singkat. Fondasinya telah ditanamkan selama bertahun-tahun melalui sistem pembinaan usia muda.
Spanyol juga dikenal memiliki klub-klub yang aktif membentuk pemain dengan karakter proaktif dan memiliki kecerdasan dalam mengambil keputusan di lapangan.
Sistem pendidikan kepelatihan pun menjadi bagian penting dari proses tersebut.
Gutierrez menjelaskan bahwa kursus kepelatihan RFEF tidak hanya mengajarkan pelatih untuk mengikuti pola tertentu. Para pelatih justru didorong untuk memahami berbagai situasi permainan, baik saat menyerang maupun bertahan.
Dengan pemahaman tersebut, pemain dapat beradaptasi terhadap berbagai kondisi di lapangan.
“Bukan tentang menebak apa yang akan terjadi selanjutnya, melainkan bagaimana para pemain menciptakan situasi dan ruang-ruang tersebut untuk diri mereka sendiri,” jelas Gutierrez.
Jose Francisco Molina, yang kini menangani Timnas Honduras, menilai pendekatan tersebut juga meningkatkan kemampuan pengambilan keputusan pemain.
Bakat alami memang penting, tetapi menurutnya bakat harus terus diasah dengan pemahaman yang jelas mengenai bagaimana sebuah tim bermain.
Ketika seorang pemain mengetahui posisi rekan setim, arah pergerakan, serta ruang yang kemungkinan terbuka, proses pengambilan keputusan menjadi lebih mudah.
Menariknya, perjalanan panjang sistem sepak bola Spanyol juga mempertemukan sejumlah nama besar dari berbagai negara.
Pier Luigi Cherubino, yang pernah mengikuti kursus kepelatihan di RFEF bersama Lionel Scaloni, pelatih Argentina yang dikalahkan Spanyol di final Piala Dunia 2026, turut melihat bagaimana sepak bola telah mengalami perubahan besar.
Menurut Cherubino, sepak bola modern kini tidak hanya berbicara mengenai pertandingan. Materi kepelatihan telah berkembang mencakup taktik, teknik, nutrisi, hingga pengondisian fisik.
Perubahan tersebut membuat pemain modern harus menjadi atlet yang semakin lengkap.
Gutierrez pun menegaskan bahwa Spanyol masih memiliki pekerjaan rumah. Sepak bola terus berkembang, termasuk dalam penggunaan data, variasi peran bek sayap, formasi asimetris, hingga metode latihan yang semakin kompleks.
Namun, Spanyol menghadapi perkembangan tersebut dengan keyakinan bahwa fondasi yang mereka bangun selama bertahun-tahun telah berada di jalur yang tepat.
Dua bintang di atas lambang La Roja mungkin menjadi simbol dari dua gelar Piala Dunia.
Tetapi jika ada satu rahasia di balik dominasi Spanyol, jawabannya mungkin bukan terletak pada satu pemain atau satu pelatih.
Rahasia itu adalah sebuah sistem
Sistem yang dimulai dari akademi, dikembangkan klub, diperkuat pendidikan pelatih, dan akhirnya disatukan oleh tim nasional.
Dan selama Spanyol terus menjaga fondasi tersebut, pertanyaan berikutnya bukan lagi mengapa La Roja begitu sulit dihentikan, Berapa banyak bintang lagi yang akan mereka tambahkan di atas lambang mereka?.(Ikel)











