Berita

Dari Luka Menjadi Karya: Kisah Zefanya Dowah, Anak Yatim Piatu yang Bangkit Bangun Rosely Cafe dan Buka Lapangan Kerja

×

Dari Luka Menjadi Karya: Kisah Zefanya Dowah, Anak Yatim Piatu yang Bangkit Bangun Rosely Cafe dan Buka Lapangan Kerja

Sebarkan artikel ini

RagamSulut.co.id — Di tengah stigma bahwa Generasi Z kerap dipandang kurang berdaya, kisah Zefanya Salem Renaldiuho Dowah justru menjadi bukti sebaliknya. Di usia muda, ia berhasil membangun usaha kuliner Rosely Cafe.id, sekaligus membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar, Senin (23/3/2026).

Rosely Cafe.id, beralamatkan di Jalan Pasar Lama Paslaten 1, Lingkungan 3, Kecamatan Tomohon Timur, Kota Tomohon, Sulawesi Utara.

Perjalanan Zefanya—atau akrab disapa Epan—tidaklah mudah. Ia harus menghadapi kenyataan pahit sebagai yatim piatu. Namun, kehilangan itu tidak mematahkan semangatnya. Justru, dari luka itulah lahir kekuatan untuk terus melangkah dan membuktikan diri.

Nama “Rosely” yang ia pilih bukan tanpa makna. Nama itu merupakan gabungan dari nama kedua orang tuanya, mendiang Robert dan Selvy—sebuah simbol cinta, kenangan, dan sumber kekuatan yang terus ia bawa dalam setiap langkah usahanya.

Dari Mimpi Sederhana, Tumbuh Jadi Harapan Banyak Orang

Epan mengaku, awalnya ia tidak pernah membayangkan usahanya akan berkembang sejauh ini. Ia hanya ingin dikenal dan memulai usaha bersama orang-orang terdekatnya. Namun seiring waktu, kerja kerasnya membuahkan hasil.

Kini, Rosely Cafe.id, tidak hanya menjadi tempat berkumpul, tetapi juga menjadi ruang peluang. Ia berhasil mempekerjakan sejumlah karyawan dan bahkan membantu pelaku UMKM lokal dengan menyediakan tempat untuk menjual roti dan kue mereka.

“Lewat usaha cafe ini, saya ingin ikut membantu membuka lapangan pekerjaan dan mendukung UMKM,” ujarnya.
Ia juga melihat bahwa sektor kuliner di Sulawesi Utara memiliki potensi besar untuk berkembang, asalkan dikelola dengan baik dan penuh komitmen.

Saat Ingin Menyerah, Ia Memilih Bertahan

Di balik keberhasilan itu, ada banyak momen sulit yang hampir membuatnya menyerah. Minimnya dukungan dari sebagian orang menjadi tantangan tersendiri. Namun, satu hal yang selalu menguatkannya adalah kenangan akan kedua orang tuanya.

“Ketika saya berada di titik ingin menyerah, saya ingat perjuangan ini untuk siapa. Saya percaya orang tua saya selalu melihat dan menyertai saya,” ungkapnya dengan haru.

Bagi Epan, meskipun tak lagi bisa melihat sosok orang tuanya, ia meyakini bahwa mereka selalu hadir di dalam hatinya—menjadi sumber semangat dan keyakinan.

Pesan Inspiratif untuk Generasi Muda

Kisah Epan menjadi pengingat kuat bahwa keterbatasan bukanlah akhir dari segalanya. Ia mengajak generasi muda untuk berani bermimpi dan keluar dari zona nyaman.

“Jangan pernah takut bermimpi. Selama kita tidak merugikan orang lain, teruslah berikan yang terbaik. Jangan takut keluar dari zona nyaman, karena di luar sana ada banyak peluang yang menunggu,” pesannya.

Lebih dari Sekadar Usaha, Ini Tentang Perjuangan

Apa yang dibangun Zefanya bukan sekadar cafe. Ini adalah simbol perjuangan, cinta kepada orang tua, dan keberanian melawan keadaan. Dari seorang anak yang kehilangan, ia tumbuh menjadi sosok yang memberi harapan bagi banyak orang.

Kisah ini membuktikan satu hal:
Generasi Z bukan tidak mampu—mereka hanya butuh kesempatan, keberanian, dan alasan kuat untuk bangkit.(Ikel)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *