RagamSulut.co.id – Banyak masyarakat Indonesia terlebih khusus masyarakat perkotaan mengeluhkan harga beras yang dinilai masih mahal. Namun tahukah kalian penghasilan Petani kita hanya sekitar Rp 17.600 per hari.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memaparkan kondisi riil penghasilan petani Indonesia sekaligus menjelaskan panjangnya proses produksi beras serta berbagai tantangan yang dihadapi petani di lapangan, Kamis (25/6/2026).
Menurutnya, perhitungan tersebut penting untuk memberikan gambaran kepada masyarakat mengenai kondisi ekonomi petani sekaligus menjaga keseimbangan antara kesejahteraan petani dan keterjangkauan harga beras bagi konsumen.
Mentan menjelaskan, dengan luas lahan rata-rata 0,5 hektare dan produktivitas nasional sekitar 5,3 ton per hektare, maka hasil panen yang diperoleh petani mencapai sekitar 2,6 ton atau 2.600 kilogram gabah.
“Luas lahan 0,5 hektar, produksi rata-rata nasional 5,3 ton menjadi 2,6 ton atau 2.600 kilogram. Kemudian dikali Rp6.500, hasilnya Rp16.900.000,” ujar Amran.
Namun, angka tersebut bukanlah keuntungan bersih yang diterima petani. Menurutnya, terdapat biaya produksi yang mencapai sekitar 50 persen dari nilai hasil panen. Setelah dikurangi biaya operasional, pendapatan yang tersisa sekitar Rp8,45 juta untuk satu musim tanam.
“Jika pendapatan tersebut dibagi dalam periode empat bulan masa tanam, maka penghasilan petani sekitar Rp2,1 juta per bulan,”ucapnya.
Selanjutnya, jika dalam satu keluarga terdapat empat anggota yang bergantung pada hasil pertanian tersebut, maka pendapatan per orang hanya sekitar Rp528 ribu per bulan.
“Bila dihitung per hari, penghasilan tersebut setara dengan sekitar Rp17.600 per orang,”terangnya.
Amran membandingkan angka tersebut dengan berbagai pengeluaran dan pendapatan profesi lainnya. Menurutnya, biaya membeli rokok dapat mencapai sekitar Rp50 ribu per hari, sementara upah tukang batu berkisar Rp150 ribu per hari.
“Sementara itu, petani yang menjadi penopang ketahanan pangan nasional hanya memperoleh sekitar Rp17.600 per hari,”tandasnya.
Melalui simulasi tersebut, Mentan menegaskan bahwa kebijakan pangan harus mempertimbangkan nasib petani yang selama ini berjuang menghasilkan beras bagi masyarakat. Di sisi lain, pemerintah juga harus menjaga agar harga beras tetap terjangkau bagi konsumen.
Menurut Amran, keseimbangan antara harga gabah yang menguntungkan petani dan harga beras yang terjangkau bagi masyarakat menjadi salah satu tantangan terbesar dalam sektor pertanian nasional.
Ia juga mengingatkan bahwa terdapat sekitar 115 juta petani di Indonesia yang menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian, sehingga setiap kebijakan yang berkaitan dengan harga hasil pertanian harus mempertimbangkan dampaknya terhadap kesejahteraan mereka.(Ikel)



