RagamSulut.co.id – Komjen Pol Dr. Roycke Harrie Langie menegaskan komitmennya untuk melanjutkan berbagai legacy, metode, dan sistem yang telah dibangun Komjen Pol Dr. Mohammad Fadil Imran selama menjabat sebagai Asisten Utama Kapolri Bidang Operasi (Astamaops) Polri.
Hal tersebut disampaikan Roycke dalam acara pisah sambut Astamaops Polri, Kamis (3/9/2026). Dalam kesempatan itu, Roycke menyampaikan penghormatan dan apresiasi kepada Fadil Imran yang memasuki masa purna tugas setelah lebih dari tiga dekade mengabdi di institusi Polri.
“Kami siap bekerja sama, dan kami siap untuk melaksanakan semua legacy dan metode serta sistem yang telah dibangun oleh Komisaris Jenderal Polisi Dr. Fadil Imran untuk kemajuan Polri,” ujar Roycke.
Menurut Roycke, momen pisah sambut tersebut bukan sekadar acara serah terima tugas, tetapi juga menjadi momentum untuk mengantar seorang senior yang telah meninggalkan berbagai gagasan dan sistem yang dinilai memberikan dampak terhadap pelaksanaan tugas kepolisian.
“Momentum ini bagi saya yang paling penting adalah kita mengantar senior kita,” katanya.
Kenang Legacy Fadil Saat di Jakarta Barat
Roycke mengungkapkan, dirinya memiliki pengalaman langsung dengan sejumlah legacy yang dibangun Fadil Imran. Salah satunya ketika Roycke menjabat sebagai Kapolres Metro Jakarta Barat.
Menurutnya, saat memimpin wilayah tersebut, Fadil telah meninggalkan sistem dan pola kerja yang kemudian menjadi salah satu acuan dalam pelaksanaan tugas kepolisian.
“Ketika saya menjadi Kapolres Metro Jakarta Barat, ada suatu legacy yang ditinggalkan oleh Komjen Pol Fadil Imran. Beliau membangun sistem, tata serta pola kerja yang beliau istilahkan dengan ‘Sigap’,” ungkap Roycke.
Ia menjelaskan, konsep tersebut mendorong respons kepolisian agar lebih cepat terhadap berbagai laporan maupun kejadian di masyarakat.
Roycke memberikan contoh ketika terjadi pohon tumbang atau gangguan lain di lingkungan masyarakat. Melalui sistem yang dibangun, laporan dapat diterima secara cepat dan terdokumentasi secara digital.
“Ketika dia melapor, karena aplikasi ini ada di PLN, ada di pengaduan kebakaran, laporan itu real time. Dan ketika dipotret, foto itu akan masuk di dalam server, dan dia akan terkoordinasi,” jelasnya.
Menurut Roycke, sistem tersebut menunjukkan bagaimana teknologi dapat digunakan untuk mempercepat koordinasi dan respons terhadap persoalan yang terjadi di lapangan.
Fadil Dinilai Bangun Kebersamaan dan Perjuangan
Roycke menilai terdapat sejumlah hal penting yang telah dibangun Fadil selama perjalanan tugasnya di Polri.
Salah satunya adalah kebersamaan dalam bekerja, kebersamaan dalam perbuatan serta kebersamaan dalam perjuangan.
“Hari ini saya melihat bahwa beliau ini menunjukkan ada tiga hal yang paling penting, yaitu telah membentuk kebersamaan dalam bekerja. Ada kebersamaan dalam perbuatan. Ada kebersamaan dalam perjuangan,” tutur Roycke.
Ia menilai Fadil merupakan sosok yang memiliki banyak ide dan mampu mendorong gagasan yang sebelumnya belum ada menjadi sebuah sistem atau program yang dapat diterapkan.
“Karena banyak ide. Perjuangannya dari yang tidak pernah ada menjadi ada,” katanya.
Polisi RW Jadi Salah Satu Legacy
Roycke juga menyinggung program Polisi RW sebagai salah satu legacy penting yang dibangun dalam perjalanan tugas Fadil Imran.
Menurutnya, konsep tersebut membuat keberadaan polisi semakin dekat dengan masyarakat karena personel kepolisian yang berdomisili di suatu lingkungan dapat menjalankan peran sebagai Polisi RW.
“Ada satu lagi legacy, yaitu beliau membentuk bagaimana Polisi RW. Ternyata itu lebih tajam. Artinya, polisi yang berdomisili di tempat tinggal itu, dia akan menjadi Polisi RW,” ujarnya.
Program tersebut dinilai memperkuat hubungan antara kepolisian dan masyarakat melalui kehadiran personel yang lebih dekat dengan lingkungan tempat tinggal warga.
Motor Penggerak Penanganan Covid-19
Roycke juga mengapresiasi peran Fadil Imran sebagai salah satu penggerak dalam penanganan pandemi Covid-19.
Ia menyebut Fadil terlibat dalam berbagai upaya penanganan Covid-19 mulai dari Jawa Timur hingga Mabes Polri.
Salah satu pendekatan yang disebut Roycke adalah konsep Kampung Tangguh atau Kampung Aman yang bertujuan membangun ketahanan masyarakat dalam menghadapi pandemi.
“Beliau juga sebagai salah satu motor penggerak dalam penanganan Covid. Mulai dari Jawa Timur sampai Mabes. Maka ini disebut dengan Kampung Aman, Kampung Tangguh,” katanya.
Menurut Roycke, konsep tersebut mendorong masyarakat di tingkat kampung untuk bersama-sama mencegah dan menghadapi penyebaran Covid-19.
“Pengabdian Abang Belum Berakhir”
Dalam sambutannya, Roycke menyampaikan pesan khusus kepada Fadil Imran yang memasuki masa purna tugas.
Ia mengatakan berakhirnya masa kedinasan bukan berarti berakhir pula pengabdian dan kontribusi kepada bangsa dan institusi.
“Abang ini mungkin tugas kepolisian sudah berakhir, tapi mungkin tidak berlebihan kalau saya sampaikan, pengabdian Abang belum berakhir,” ujar Roycke.
Ia berharap Fadil tetap berkarya meskipun telah menyelesaikan masa dinasnya sebagai anggota Polri.
“Tetaplah berkarya walaupun masa dinas sudah selesai,” katanya.
Menutup sambutannya, Roycke kembali menegaskan komitmennya bersama seluruh jajaran untuk melanjutkan berbagai legacy yang telah dibangun Fadil Imran.
“Sekali lagi, kami siap bekerja sama, dan kami siap untuk melaksanakan semua legacy dan metode serta sistem yang telah dibangun oleh Komisaris Jenderal Polisi Dr. Fadil Imran untuk kemajuan Polri,” pungkasnya.(Ikel)











