BeritaEkonomi

Mal di Manado Tetap Ramai Saat Rupiah Melemah, Akademisi Unsrat Soroti Potensi “Ekonomi Semu”

×

Mal di Manado Tetap Ramai Saat Rupiah Melemah, Akademisi Unsrat Soroti Potensi “Ekonomi Semu”

Sebarkan artikel ini

RagamSulut.co.id– Aktivitas masyarakat di pusat perbelanjaan dan kafe UMKM di Kota Manado masih terlihat ramai meski kondisi ekonomi nasional menghadapi tekanan, termasuk pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, Senin (10/8/2026).

Fenomena tersebut mendapat sorotan dari akademisi Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado, Magdalena Wulur. Ia menilai ramainya pusat perbelanjaan tidak serta-merta menjadi indikator bahwa kondisi ekonomi masyarakat sedang sepenuhnya baik.

Menurut Magdalena, masyarakat yang datang ke pusat perbelanjaan bisa saja hanya untuk berjalan-jalan. Sementara mereka yang berbelanja belum tentu seluruhnya menggunakan pendapatan saat ini, karena sebagian masyarakat dapat memanfaatkan pinjaman atau sumber pembiayaan lainnya.

“Ya, mungkin pertama-tama datang untuk jalan-jalan. Kedua, kalaupun belanja mungkin pinjol,” ujar Magdalena.

Ia menjelaskan, kondisi perekonomian Sulawesi Utara secara umum masih menunjukkan sejumlah indikator positif, seperti pertumbuhan ekonomi, penurunan pengangguran dan kemiskinan, serta perkembangan UMKM.

Namun, menurutnya, tingginya aktivitas konsumsi masyarakat perlu dilihat secara lebih mendalam agar tidak menimbulkan kesimpulan bahwa kondisi ekonomi sudah sepenuhnya kuat.

“Kalau itu pun terjadi, itu terlihat semu. Pertumbuhan ekonomi yang semu, karena dia akan rentan turun,” katanya.

Pola Ekonomi Sulut Dinilai Fluktuatif

Magdalena menilai Sulawesi Utara memiliki pola pertumbuhan ekonomi yang cenderung meningkat pada periode tertentu, khususnya menjelang akhir tahun.

Ia mencontohkan momentum setelah pelaksanaan pengucapan syukur yang biasanya mendorong aktivitas ekonomi masyarakat.

“Kalau kita lihat pertumbuhan ekonomi itu dia akan naik di akhir-akhir tahun. Apalagi setelah pengucapan syukur, ‘Oh, tinggi tuh pertumbuhan ekonominya.’ Tapi kalau mulai masuk Januari, Februari, nah ini miskin lagi,” ungkapnya.

Karena itu, ia menilai pertumbuhan ekonomi tidak cukup hanya dilihat dari satu periode tertentu. Pemerintah dan pemangku kepentingan perlu melihat konsistensi pertumbuhan secara triwulanan maupun berdasarkan perbandingan tahunan dan bulanan.

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi idealnya tidak hanya mengalami lonjakan pada periode tertentu, tetapi memiliki tren yang terus meningkat secara berkelanjutan.

“Dia garisnya bukan fluktuatif, tapi dia bisa naik terus, progresnya baik,” jelas Magdalena.

Ramainya Mal Belum Tentu Cerminkan Daya Beli

Fenomena ramainya pusat perbelanjaan di Manado di tengah anggapan ekonomi sedang lesu juga menjadi perhatian Magdalena.

Ia mencontohkan kondisi di Manado Town Square (Mantos) dan pusat perbelanjaan lainnya yang tetap dipadati masyarakat.

Menurutnya, terdapat beberapa kemungkinan yang menjelaskan fenomena tersebut, mulai dari masyarakat yang datang sekadar untuk rekreasi, menggunakan pinjaman untuk berbelanja, hingga memanfaatkan tabungan yang dimiliki.

“Kenapa kita ekonomi lesu, tapi di Mantos atau di tempat-tempat mal-mal yang lainnya itu orang terlalu banyak? Ya, mungkin pertama-tama datang untuk jalan-jalan. Kedua, kalaupun belanja mungkin pinjol,” ujarnya.

Meski demikian, Magdalena menilai masyarakat Sulawesi Utara memiliki karakter produktif dan gemar bekerja maupun beraktivitas.

Ia berharap pemerintah mampu membuka lebih banyak peluang ekonomi sehingga produktivitas masyarakat dapat terus berkembang dan memberikan dampak terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.

Waspadai Panic Buying

Selain pola konsumsi, Magdalena juga menyoroti perilaku masyarakat ketika terjadi perubahan harga sejumlah kebutuhan pokok.

Menurutnya, masyarakat Manado cenderung mudah melakukan panic buying ketika terjadi kenaikan atau fluktuasi harga komoditas tertentu, seperti cabai, bawang, dan ikan.

Kondisi tersebut pada akhirnya dapat ikut memberikan tekanan terhadap harga dan memicu inflasi.

Namun, ia menilai kondisi tersebut biasanya kembali normal setelah masyarakat mulai beradaptasi dengan perubahan harga.

Magdalena berharap pemerintah tidak hanya mengandalkan indikator makroekonomi dan data statistik, tetapi juga memperkuat pengamatan terhadap kondisi ekonomi yang benar-benar terjadi di lapangan.

Ia menilai data lapangan penting untuk memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai daya beli, pola konsumsi, kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan, serta kondisi UMKM di Sulawesi Utara.

Pada akhirnya, Magdalena berharap pertumbuhan ekonomi Sulawesi Utara dapat berlangsung secara konsisten, tidak hanya meningkat pada momentum tertentu, tetapi mampu memberikan dampak nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat.(Ikel)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *