BeritaPariwisata

Melihat dari dekat Kelenteng Ban Hing Kiong Manado yang Berusia 400 Tahun

×

Melihat dari dekat Kelenteng Ban Hing Kiong Manado yang Berusia 400 Tahun

Sebarkan artikel ini

RagamSulut.co.id – Kelenteng Ban Hing Kiong merupakan salah satu tempat ibadah bagi penganut kepercayaan tradisional Tionghoa di Kota Manado, Sulawesi Utara. Menurut sumber yang ada kelenteng ini sudah berumur sekitar 400 tahun, Senin (16/2/2026).

Berawal dari perantauan Tionghoa datang ke Minahasa dan membangun pemukiman pada tahun 1607. Pemukiman warga Tionghoa menjadi semakin luas dan hal ini mendorong pembangunan kelenteng Ban Hing Kiong pada sekitar tahun tersebut.

Dalam hal ini, pimpinan kelenteng Ban Hing Kiong Jemmy Binsar menjelaskan, bahwa pada masa itu, kelenteng ini berawal dari bangunan kecil dengan dinding nibung dan beratapkan Rumbia.

”Pada tahun 1819, kelenteng mulai dibangun semi permanen yang dindingnya berbahan kayu dan atapnya dari bahan seng. Kelenteng ini dipugar lagi pada tahun 1854-1859 dan 1895-1902, bentuk permanen kelenteng yang ada pada saat ini dibangun pada tahun 1971-1975 setelah terjadinya kebakaran akibat peristiwa 14 Maret 1970,” ungkap Binsar.

Kembali Jemmy melanjutkan narasinya, bahwa melalui peristiwa itu kelenteng kembali dibangun dan dilakukan peresmian pada tanggal 10 September 1994 (Imlek 2545-08-05)

”Nama Ban Hing Kiong dapat diartikan sebagai istana sejuta berkah, kemudian data lainnya menyebutkan bahwa sejarahnya sempat hilang akibat pecahnya perang dunia ke II pada 8 Desember 1941, pemboman di Kota Manado pada tanggal 7 September 1944,” beber Jemmy.

Dia juga mengatakan beberapa Mujizat yang pernah terjadi di kelenteng berumur 400-an tahun itu, semasa kelenteng masih belum semi permanen (sebelum 1819), pernah terjadi kebakaran besar di seputaran kelenteng. Ketika api akan menjilat kelenteng, tiba tiba api tersebut tegak lurus hingga padam dan kelenteng tidak terbakar .

”Kemudian, sekitar tahun 1930, kala itu Manado terserang wabah kolera yang memakan banyak korban, sehingga kelenteng Ban Hing Kiong mengadakan sembahyang khusus dan mengeluarkan Kio/Tandu berkeliling kota. Alhasil wabah itu lenyap,”celetuknya .

Pada tahun 1957 terjadi perang Permesta. Pemerintah pusat menyerang pejuang-pejuang Permesta dan salah satu peluruh meriam ditembakkan ke kelenteng Ban Hing Kiong menembus pintu dan masuk di bawah altar suci Kong Tek Cun Ong. Namun, secara mujizat peluruh meriam itu tidak meledak .

”Ada enam altar perwujudan di kelenteng, diantaranya Altar Tuhan, Altar Yang Suci Thian Siang Seng Bo, Altar Yang Suci Kong Tek Cun Ong, Altar Yang Suci Hok Tek Ceng Sin, Altar Tri Nabi Agung : Buddha Siddharta Khong Cu, dan Altar Yang Suci Kwan Im Pho Sat,” jelas Binsar .

Diketahui, selain menjadi tempat peribadatan umat Tionghoa, menjelang hari raya Imlek, dalam pantauan, terlihat begitu banyak turis lokal dan mancanegara datang untuk mengunjungi kelenteng tersebut.(Ikel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *