RagamSulut.co.id – Industri udang vaname nasional menghadapi tantangan besar, yakni serangan penyakit, pencemaran lingkungan, tuntutan mutu produk secara global, hingga tekanan efisiensi biaya produksi, Kamis (29/1/2026).
Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Pusat Riset Budidaya Laut (PRBL) Organisasi Riset Pertanian dan Pangan (ORPP), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), melakukan riset teknologi bioflok yang memberi harapan baru bagi budidaya udang vaname yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
“Bioflok bukan sekadar teknik budidaya, melainkan pendekatan bioteknologi yang memanfaatkan bakteri baik untuk mengikat sisa pakan, kotoran udang, dan senyawa beracun, seperti amonia menjadi gumpalan mikroorganisme (flok),” ungkap I Ketut Sugama, peneliti PRBL BRIN.
Menurutnya, flok dapat dimanfaatkan kembali oleh udang sebagai sumber pakan alami. Dengan teknologi bioflok, limbah tidak lagi menjadi musuh utama tambak, tetapi justru diubah menjadi sumber nutrisi.
“Kualitas air lebih stabil, ketergantungan terhadap pergantian air berkurang, dan biaya pakan yang merupakan komponen terbesar dalam budidaya udang dapat ditekan,” imbuhnya.
Hal senada diungkapkan I Gusti Ngurah Permana, periset PRBL BRIN, bahwa dari riset yang dilakukan di Bali, Jawa Timur, dan Banten menunjukkan penerapan teknologi bioflok mampu meningkatkan performa budidaya secara signifikan.
“Pada tambak-tambak yang dikelola dengan baik, produktivitas mencapai 15–50 ton perhektar persiklus, dengan tingkat kelangsungan hidup udang (survival rate) hingga 98 persen dan rasio konversi pakan/food convertion ratio (FCR) yang rendah, yakni sekitar 0,9–1,2,” tambahnya saat wawancara di Bali.
Dikatakan Permana, hasil tersebut menunjukkan efisiensi yang jauh lebih baik dibandingkan sistem konvensional. Selain itu, pertumbuhan harian udang juga relatif tinggi dan stabil.
Haryanti, Periset PRBL menerangkan bahwa pengelolaan panen parsial yang diterapkan petambak juga memberi ruang tumbuh optimal bagi udang yang tersisa. Ukuran panen akan lebih seragam dan bernilai jual lebih tinggi.
Selain itu, komunitas mikroorganisme pembentuk flok seperti mikroba dan mikroalga juga menunjukkan biodiversitas yang baik serta tidak bersifat toksin.
Dalam kesempatan yang sama, I Ketut Mahardika, Periset PRBL BRIN menyatakan bahwa tidak semua tambak bioflok otomatis berhasil namun ditentukan oleh komposisi bakteri dan plankton.
Ia menyampaikan bahwa tambak di Bali, misalnya, banyak didominasi bakteri dari kelompok Basilus yang dikenal berperan positif dalam sistem bioflok.
Sebaliknya, di beberapa lokasi lain ditemukan dominasi bakteri Vibrio, yang berpotensi merugikan bila tidak terkendali. Hal ini dipengaruhi oleh manajemen tambak, kualitas air, jenis probiotik, serta keseimbangan karbon dan nitrogen.
“Dari riset ini, tim periset kegiatan riset bioflok membuat suatu rekomendasi pentingnya standar prosedur baku agar teknologi bioflok dapat diterapkan secara konsisten di berbagai daerah. Teknologi bioflok bukan solusi instan, tetapi fondasi kuat menuju budidaya udang Indonesia yang lebih modern, efisien, dan berkelanjutan,” imbuh Mahardika.
Dengan adanya riset teknologi bioflok ini diharapkan dapat mendukung program strategis nasional pemerintah dalam mendukung ketahanan pangan yang berkelanjutan.(Ikel)












