RagamSulut.co.id – Koordinator Program Implementasi Program Pengelolaan Akses Area Perikanan (PAAP) Sulawesi Utara, Dedy Oktavian Siahaan, mengatakan patroli pengawasan laut yang dilakukan di kawasan Kumeke-Nanas merupakan bagian dari kegiatan rutin untuk menjaga kelestarian sumber daya laut dan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap praktik penangkapan ikan ramah lingkungan.
Patroli bersama tersebut dilaksanakan di kawasan PAAP Kumeke-Nanas, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur, Kamis (21/5/2026), melibatkan berbagai pihak mulai dari Kelompok Pengelolaan Akses Area Perikanan (PAAP), Dinas Perikanan Kabupaten Bolaang Mongondow Timur, PSDKP Bitung, TNI Angkatan Laut, hingga kelompok masyarakat pengawas kawasan.
“Hari ini kita melakukan patroli bersama dan pengawasan bersama dengan masyarakat Kelompok PAAP Kumeke-Nanas. Kegiatan ini sebenarnya kegiatan rutin yang dilakukan kelompok, biasanya satu bulan sekali,” ujar Dedy.
Ia menjelaskan, sejak tahun 2025 masyarakat di kawasan tersebut telah mendapatkan pendampingan terkait pengelolaan akses area perikanan, termasuk pengawasan partisipatif yang dilakukan langsung oleh kelompok masyarakat.
Menurutnya, pengawasan rutin dilakukan untuk mendorong masyarakat mematuhi aturan perikanan yang telah disepakati bersama, terutama terkait larangan penggunaan alat tangkap destruktif seperti bom dan racun ikan.
“Kami mendorong masyarakat perikanan skala kecil untuk taat terhadap aturan perikanan, khususnya menangkap ikan dengan cara-cara ramah lingkungan dan tidak menggunakan bom maupun racun,” katanya.
Dedy menyebutkan, program PAAP di Sulawesi Utara saat ini telah berjalan di 13 kawasan yang tersebar di 10 kabupaten, meliputi wilayah Bolaang Mongondow Raya, Minahasa Raya, Kepulauan Sangihe, hingga Sitaro.
Ia menilai, pendampingan dan pelatihan yang dilakukan mulai menunjukkan dampak positif bagi masyarakat pesisir, terutama dalam meningkatkan kesadaran tentang pentingnya menjaga ekosistem laut untuk keberlanjutan generasi mendatang.
“Masyarakat mulai memahami bahwa penggunaan bom ikan bukan hanya merusak ekologi laut, tetapi juga berdampak pada masa depan anak cucu mereka. Jadi mereka mulai melihat pentingnya menjaga sumber daya laut untuk jangka panjang,” jelasnya.
Rare Indonesia bersama mitra pemerintah dan masyarakat, lanjut Dedy, berkomitmen mendukung program tersebut hingga tahun 2028.
Namun demikian, ia berharap ke depan kelompok masyarakat dapat semakin mandiri melalui pengembangan peluang pendanaan inovatif serta penguatan kapasitas kelompok.
“Kami berharap program ini terus berjalan seiring pendampingan yang dilakukan bersama Dinas Perikanan. Masyarakat diharapkan bisa mandiri, kelompok terus berkembang, dan keterlibatan pendamping secara bertahap semakin kecil,” pungkasnya.(Ikel)












